Dirobohkan Angin? Rehab Jembatan di Desa Betung Diduga Asal Jadi dan Menyimpang -->

Dirobohkan Angin? Rehab Jembatan di Desa Betung Diduga Asal Jadi dan Menyimpang

Redaksi
Minggu, Maret 28, 2021


KeizalinNews.com l Pelalawan -
Rehap jembatan di Desa Betung, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan yang dikerjakan pada Tahun Anggaran 2019 diduga terkesan asal jadi dan menyimpang.


Rehab jembatan di Desa Betung itu sangat disayangkan karena diduga tidak memprioritaskan mutu dan kualitas. Pasalnya, hanya berselang beberapa bulan, yaitu pada tahun 2020 jembatan telah roboh.


Walaupun telah di rehab, ternyata beberapa balok kayu yang digunakan masih yang lama. Kayu balok bekas tersebut diduga tidak lagi kokoh dan kuat sehingga menjadi pemicu dasar yang kuat untuk kemungkinan jembatan ambruk atau roboh.


Mirisnya, ketika kejadian robohnya jembatan itu dikonfirmasi kepada Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Pelalawan, Andi Yuliandri,S.Kom, ia menyatakan bahwa rehab itu telah sesuai.


Andi telah mengetahui jembatan Desa Betung roboh. Bahkan ia mengaku, awalnya berfikir bahwa penyebab robohnya jembatan diakibatkan beban berat yang melintas diatasnya. Namun nyatanya tidak.


"Material kan lewat jembatan itu, ndak rusak jembatannnya. Ndak ada apa-apa. Kami tadinya berpikir, rusak jembatan karena mobil lewat bawa material, rupanya tidak. Kalau mobil lewat bawa material berarti kan ada balok-balok (kayu) yang patah," ucapnya kepada wartawan, Selasa (02/02/2021).


Andi Yuliandri beranggapan bahwa balok kayu tidak patah dalam kasus robohnya jembatan itu, namun sudah tua. Disaat rehab, balok kayu tua itu menurut mereka tidak perlu diganti.


"Itu bukan balok yang patah. Jadi, balok itu memang mungkin udah tua, yang menurut kami kemarin waktu kami rehab, nggak perlu diganti karena baloknya masih bagus. Baloknya tetap kita pakai balok lama," ungkapnya.


Pernyataan Andi Yuliandri menjadi dasar dugaan kuat bahwa pihak Dispora Kabupaten Pelalawan memang sengaja mengabaikan kondisi sejumlah balok yang sudah tua dan seharusnya layak untuk diganti.


Ironisnya, foktor alam pun menjadi dalih lain Kepala Dispora Kabupaten Pelalawan atas robohnya jembatan tersebut.


"Karena angin kuat akhirnya roboh lah atap itu dan kemudian ada beberapa balok yang udah tua yang terangkat (karena angin). Jembatannya tidak terganggu," sebutnya.


Lanjut Andi, tapi kita ndak bisa juga menyalahkan balok (tua/lapuk) itu sebenarnya. Kalau musibah itu, ndak bisa kita elakkan. Rumah penduduk aja udah terangkat sekrang karena angin puting beliung.


Pernyataan yang cukup aneh kembali diutarakan Andi saat wartawan konfirmasi. Pasalnya ia menyampaikan bahwa angin mengarah ke jembatan sehingga roboh. Seolah-olah angin puting beliung sudah menargetkan jembatan Layang Desa Betung itu untuk diterjangnya. 


"Kita dalam kondisi cuaca tidak stabil. Kalau kalian tidak percaya, boleh kalian tanyakan sama pak Kades nya. Pada malam itu hujan lebat dan ada beberapa pohon yang tumbang kena angin. Kemudian angin itu mengarah ke jembatan dan jembatan itu yang dia hantam," katanya.


Anehnya lagi, bagian-bagian reruntuhan jembatan tidak terlalu berserakan dimana-mana seperti bekas yang dilalui bencana alam angin puting beliung pada umumnya. Ini juga memicu tanda tanya penyebab pasti ambruknya jembatan.


Angin, faktor alam yang seolah menjadi kambing hitam atas robohnya jembatan tersebut diduga hanyalah pengalihan dari kesalahan penggunaan balok kayu bekas dan dugaan asal jadi serta indikasi penyimpangan.


Ketika ditanya jumlah anggaran yang digunakan untuk rehab jembatan itu, Andi Yuliandri tidak menyebutkan nominal pasti, namun hanya menjawab dengan perkiraan harga yang ia pikirkan.

"Sekitar 60-70 juta lah," tandasnya. 


Selain rehab jembatan Desa Betung di Kecamatan Pangkalan Kuras, diduga banyak lagi pekerjaan fisik Dispora (Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga) Kabupaten Pelalawan yang bermasalah pada Tahun Anggaran 2019 dan 2020. 


(ARIS. H).